MENU LEZAT

Sabtu, 14 November 2015

KENAPA SAYA HARUS MENULIS??



Jika pertanyaan yang menggeluti itu adalah kenapa saya harus menulis? maka awal mula menulislah yang akan saya ceritakan.
Berawal dari kehobian yang tidak terdeteksi, yang salah satunya adalah menulis. Ternyata hobi itu adalah sesuatu hal yang kita senangi, sesuatu hal yang sangat enjoy kita lakukan. Begitulah dengan menulis. Entah mendapatkan Ilham darimana yang jelas sejak duduk di sekolah dasar kegemaranku adalah bercerita dan dituangkannya ke dalam sebuah tulisan yang bernama cerpen. Mungkin saat itu yang terfikir adalah hanya ingin oranglain tau kebahagian atau kesedihan apa yang sedang aku alami tanpa harus ku bercerita satu persatu kepada orang lain. Ternyata respon pun positif. Aku selalu unggul dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Selalu mendapatkan nilai tertinggi terlebih masalah membuat cerpen. Aku bersyukur mungkin ini salah satu Ilham yang Tuhan hadirkan pada diri sehingganya aku banyak memiliki perbenbdaharaan kosa kata.
Tidak hanya berhenti di suatu tempat, ternyata semakin remaja asah itu semakin berkembang. Pun sama halnya ketika duduk di sekolah dasar, saat aku kembali duduk di sekolah menengah pertama pun kembali menjadi (naik daun) di kalangan teman-temanku karena pelajaran bahasa Indonesia. Disaat yang lain ogah-ogahan diminta bercerita atau membuat cerita pendek, justru hal itulah yang sangat aku nanti-nantikan. Yaps.. saat guru meminta dengan formatan 2 halaman maka dengan senang hati aku membuatnya bisa menjadi 5 halaman. Betapa bahagiannya diri ini. Selalu naik daun, mendapatkan nilai terbaik, dan di kenal dengan banyak orang.
Tidak hanya itu, melihat kerisauan diri setiap hari. Curahan yang harus di tumpahkan, hati yang bergejolak karena gebetan di tarik teman, guru yang pilih kasih, dan fenomena alam setiap harinya mengajak diri ini untuk terus berimajinasi. Merangkai kata satu demi kata, kesedihankah, rasa malukah, atau perasaan apapun itu tak luput ku tuliskan di dalam catatan diaryku. Hanya bermodal buku tulis dan pulpen satu buah, ku mulai mencurahkan segalanya ke tempat itu. Mungkin ini adalah sebuah pelampiasan dimana aku tidak mudah untuk berbicara dengan orang lain, aku.. tidak mudah mencari-cari perhatiaan melalui public speaking yang tidak seberapa itu. Aku lebih senang sendiri dan menyendiri, melakukannya dengan ketenangan dan kesunyian.
Saat itu aku belum paham apa arti dari sebuah kebermanfaatan. Yang ku lakukan hanya sebatas pelampiasan dari hati yang selalu bergejolak dan harus diceritakan, walau hanya melalui tulisan. Hingga ku temui satu titik dimana aku harus menulis.
Ternyata ku menemukan sebuah jawaban di saat aku membuka kembali catatan diary. Disana banyak berisi sebuah kisah setiap lembarnya, berisi tentang kesedihan, kekesalan dengan seseorang, kebahagiaan, canda, tawa, rasa malu dan sebagainya. Lalu ku menatapnya dengan penuh dalam. “Ah... sudah tidak berguna”, hanya kata itu yang tertoreh di hati. Bersegera ku ambil korek api, lalu hal selanjutnya yang dilakukan adalah membakar diaryku dan menerbangkannya bersama angin, setelah itu selesai. Karena, diary itu tak ada gunanya. Ia hanya mengingatkan diri kepada suatu kejadian yang lalu. Akhirnya aku pun memutuskan, mengapa tidak menulis yang lebih bermanfaat. Mengapa tidak menulis yang banyak orang mampu mengkonsumsinya, mengapa tidak menulis agar menjadi perantaraku ke syurga, mengapa tidak menulis untuk aku berpendapat. Dan seputaran khayalan itu terlintas di benak begitu saja.
Langit biru membawakan kabar yang saaaaaangaaatttt bahagia. Ternyata aku tidak salah memilih eskul di sekolah. Di Rohis, ternyata ada tenpat untuk kita berasah melalui tulisan. Ada komunitas dimana tempat sebuah mimpi menjadi seorang jurnalistik dimulai. Kenapa aku harus ragu gabung di dalamnya. Dengan senang hati aku mengikuti ajakan seorang teman yang lebih dulu bergabung dalam komunitas itu. Namanyanya Komunitas ABG (Ajang Bina Generasi) dimana sesuai namanya didalamnya terdapat banyak para ABG-ers dari sekolah-sekolah lain. Kami berkumpul bersama dalam komunitas itu. Kami mendapatkan materi dan pelatihan. Kami diajak terjun ke lapangan. Kami di asah untuk membuat tulisan yang baik dan benar. Dan kami diarahkan sesuai passion masing-masing. Karena jurnalistik tidak hanya menulis.. ada photograpy dan desain grafis diantaranya. Komunitas ini di naungi oleh Departemen Humas (Hubungan Masyarakat) FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis) Bandar Lampung. Di tempat inilah aku berkembang, bertemu dengan teman-teman yang mempunyai mimpi yang besar. Di tempat ini semua kembali terasah dan terarah. Aku sangat bahagia pernah tuhan izinkan berkembang di komunitas ini.
Beriringan dengan waktu, komunitas ABG beralih Menjadi Journey (Journalis Of The Yout) dimana komunitas ini kembali terbimbing dan tempat orang-orang yang benar-benar berkomitmen. Dan yang uniknya lagi adalah tempat ini adalah tempat pilihan, hanya orang-orang pilihan yang berada di dalamnya mewakili sekolah masing-masing. Disini semua di mulai. Awal pertama sebuah kebahagian dalam sebuah dunia menulis. Aku.. TELAH MENGAZZAMKAN DIRI MENJADI SEORANG PENULIS. Aku bermimpi suatu hari nanti tulisanku berhak ada di rak toko buku Gramedia atau yang lainnya. Kebahagian pertama adalah saat tulisan-tulisanku diterima dan di muat di halaman website fkar.org. karena apa? Karena tidak semua tulisan bisa masuk ke tempat itu. Karena tidak semua tau bagaimana caranya memasukkan tulisannya di sana. Kami Team Journey diberikan kesempatan untuk mengirimkan rillis setiap agenda berlangsung. Dan bahagia tuh saat tulisan kita diterima dan tercantum nama kita disana. Bahagiaaa sekali.
Kebahagiaan selanjutnya adalah.. saat mengikuti training kepenulisan journey 2010 yang langsung di isi oleh Kepala Redaksi Majalah Khalifah dari Jakarta (Pk. Iqbal setyarso salah satunya). Disana aku banyak bertemu teman-teman yang super. Super tulisannya, super pedenya, super kreatifnya, super pematerinya, dan super panitianya. Mengamati.. dan bermimpi di dalam hati. AKU  BISA SEPERTI MEREKA ATAU LEBIH BAIK DARI ITU. Kebahagiaan itu kembali berkembang di saat kami (aku dan sahabatku Inne) mengirimkan rillis agenda yang telah terlaksana ke Majalah Khalifah Jakarta. Bahagianya tatkala paket majalah datang, dan dibuka lembar per lembar. Ada nama dan tulisan yang kami kirim.. dan tidak tanggung-tanggung.. disana terpampang jelas poto kami masing-masing. Ada 2 artikel, 2 foto, 2 tulisan dari sanak Lampung dan diterbitakan di Majalah Jakarta lalu dikirm dan ortu yang membuka.. itu lohhh bahagia bangett rasanya. Menjadi satu kebanggaan ortu dan langsung mendapatkan restu dari mereka.
Kebahagiaan selanjutnya.. saat tulisan cerpenku yang tentang kejadian Ujian Nasional di muat di salah satu koran yang ada di Lampung. Cerpen yang panjangnya sampai 3 halaman itu berceritakan tentang diri ini yang dipaksa dengan pengawas ujian untuk mengisi dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia, sampai harus meneteskan air mata karena ulah sang pengawas aneh itu.. kejadian yang mempertahankanku pada situasi kejujuran. Hingga aku berlari ke mushola kecil tempat aku dan teman-teman Rohis memperjuangkan kebaikan dan kejujuran. Di tempat itu aku bercerita dnegan mereka, dan di tempat itu pula ku tuangkan cerita pendek yang menginspiratif ke sebuah tulisan. Bahagianya di saat orang lain berkata padaku bahwa namanya dan cerpennya di muat di sebuah koran. Dan sedihnya... karena aku tidak mengetahuinya, bahkan pihak dimana aku mengirimkan tulisan itu pun tidak bertanggungjawab. Tidak menginfokannya apalagi memberikan fee kepada penulis. Bahagia.. karena namanya tercantum dan cerpennya lolos di muat di koran harian. Sedih.. karena membuat diriku tak percaya untuk mengirimkannya kembali ke koran harian itu.
Tidak hanya dua kebahagiaan di atas. Kebahagaian yang banyak pun datang bertubi-tubi. Satu per satu paket buku datang ke rumah baik buku antalogi hasil perlombaan atau buku novel karyaku sendiri. Bahagia.. dan bahagia.. kata itu yang mewakili jiwa. Karena paket-paket itulah yang menjadikan jiwa semakin percaya diri bahwa saya seorang penulis. Karena paket-paket itulah jawaban dan kebanggan orangtua. Bahagia.. karena ternyata tulisanku cukup baik untuk diterima khalayak orang. Novel Facebook Dan Cinta yang ku terbitkan melalui nulisbuku.com, antalogi yang terseleksi dari 900an peserta, dan event-event lain. Bahkan bertubi-tubi prestasi yang di dapatkan di bidang kepenulisan ini membuat diri semakin percaya diri dan bangga untuk menjadi seorang pennulis.
Bermimpi.. ya.. semua berawal dari mimpi. Mimpi di sebuah kertas yang tertulis. Mimpi yang gak tau memulainya dari mana dan yang terpenting aku menulis mimpi itu di sebuah kertas. Tahun ini akan membuat 2 buku, tahun ini namanya akan terkenal tanpa oranglain harus tau aku siapa, tahun ini.. dan tahun ini... yaps.. semua aku tuliskan di bawah alam sadar. Dan ku sadari tatkala semua telah terwujud menjadi nyata.
Hari ini, bukan diri yang menggebu-gebu dengan bangga mengatakan saya penulis, hari ini orang diluar sanalah yang mengakui bahwa aku seorang penulis dan selalu dinantikan karya-karya tulisannya. Dan kepercayaan mereka tidak mungkin ku sia-saiakan begitu saja.
Mimpi dan niat itu bisa diluruskan di tengah jalan. Kembali menggapai Ridho-Nya. Mungkin dulu.. mimpi dan niat itu hanya ingin terkenal dan di akui banyak orang. Tapi hari ini, terlepas dari itu.. mimpiku adalah tulisan-tulisan yang ku torehkan bisa menginspirasi banyak orang, tulisanku mampu membawa perubahan, tulisanku banyak kebermanfaatnnya, tulisanku mampu mengantarkanku ke Ridhoa-an Allah sebagai amal jariyah, mimpiku hanya satu. Mendapatkan Cinta dan Keridhoan Allah melalui sebuah tulisan.
Aku rasa, kebahagiaan seorang penulis bukan lagi sebuah ketenaran, bukan lagi sebuah uang royalti yang di dapat. Ku rasa itu semua hanyalah bonus dari usaha. Kebahagiaan penulis cukup namanya tercantum dan tulisannya dikonsumsi banyak orang itu sudah menjadi kebahgaiaan yang amat besar. Karena menulis bukan masalah menorehkan, karena munlis adalah memberikan cinta. Karena hati, fikran, waktu, tenaga, dan uang ia limpahkan dengan sebuah tulisan yang dipersembahkan untuk banyak orang. Jika engkau bukan siapa-saiap, jika engkau bukan anak bangsawan terlebih anak raja, maka menulslah, dengan menulis semua akan kekal abadi. Selamat berkarya!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar