Tuesday, October 17, 2017

JAKARTA YANG AKU TINGGALKAN


Pukul 17.50 waktu di layar handphone sore itu, sedang berlangsungnya puncak acara, sedang fantastis dimana detik-detik launching buku bunda Asma “Bidadari Untuk Dewa”. Ruang teater saat itu sedang haru dan gemuruh, melihat, mendengarkan dan menyaksikan Coach Tendi Murti, Bunda Asma, dan Bidadarinya sang Kang Dewa, Teh Wiwik yang sedang talkshow tentang buku tersebut. Peserta yang pada antusias kepo maksimal. dengan menyampaikan banyak pertanyaan, belum lagi yang haru sembari berlinangan air mata sehingganya tersedak-sedak saat bertanya.  Bisa dikatakan moment baper-baperan di puncak acara, bagaimana tidak, kisah Kang Dewa dan bidadarinya sangatlah bagus untuk diambil pembelajaran untuk para jomblowers maupun sepasang suami-isteri.

Hingga pukul 18.00 dengan resminya buku di launching acarapun diselesaikan. Sudah ku duga pasti selesainya maghrib, di roundow saja 17.30.
Kami pun meninggalkan ruang teater satu persatu menuju pelantaran depan, walau sebagian masih ada yang berada di dalam untuk bertanya dengan sang MC terkait kelas Pak Ipho Santosa yang ditawarkan tadi siang.
Aku, Mb Arie, Mb Yekti, Umi Neny, Ari, Nisda, kami ber-Enam berkumpul di depan seputaran bazar.
“Mau pada shalat dimana?” ujarku menatap Mb Arie dan Nisda yang memang hanya mereka berdua yang shalat.
“Di terminal saja” ujar Mb Arie
“Kita jam berapa tiket pulangnya? Jadi jam 21.00?” tanyaku penasaran, karena sebelumnya kami memang merencanakan untuk kembali pukul 21,00
“Tiket yang jam 21.00 habis, kita kebagian jam 20.00” sahut Mb Yekti
“Apa? Yah.. gak jadi jalan-jalan dong,”
“Kalau begitu kita harus buru-buru menuju terminal Gambir,” pendapat salah satu dari kami
“Yasudah ayo, pesen go-carnya” ujar Mb Arie
“Yah. Hapeku kan lowbet. Lalu bagimana?” keluh ku pada mereka
“Minta pesankan saja, atau sembari menunggu coba cari tempat casan dulu.” Ujar Ari.
Dan kami pun berpencar. Umi Neny menemui sanak-saudaranya, Ari, mb Arie dan Nisda berburu buku di  stand bazar, aku dan mb Yekti menuggu handphone yang sedang berusaha dihidupkan. Kebetulan hanya hpku yang mempunya aplikasi go-carnya.
Sedang berupaya, namun apalah daya tidak bisa instan terpenuhi, sedangkan waktu terus berjalan.
“Umi minta tolong pesankan saja, hp desli masih low” ujarku pada umi.
“Oke tunggu ya..”
Dan beberapa menit kemudian go-car pun telah dipesan, kami bersiap-siap menuju stasiun gambir. Namun di sela-sela menunggu kedatagan go-car Mb Yekti dan Ari ingin sekali foto bareng dengan bunda Asma Nadia. Maksud hati memanggil mereka untuk menuju ke pintu depan gedung dikarenakan go-car sudah mau sampai eh justru aku pun ikut terjebak dihampitan para fans bunda.
Saat itu ada seorang gadis bertanya dengan bunda, namun bunda Asma selalu menatap ke arahku dan Ari, seolah-olah kamilah yang bertanya tadi. Sedangkan mb Arie sudah memanggil-manggil dari kaca depan untuk pulang. Tidak bisa berkutik, tidak mungkin disaat bunda mengajak bicara kita tinggalkan, akhirnya aku pun mengangguk-ngangguk saja, sembari tangan ini memegang dan berbisik ke Ari, Ri.. gimana nih, bunda matanya ke kita aja, bunda ngejawabnya ke kita, padahlkan yang bertanya mereka, aduhh salah orang nih, sudah dituggu go-car di depan. Iya nih bagimana.. dan mb Arie pun datang menghampiri bermaksud mengajak kami ke luar dari tempat itu. Tidak lama kemudian ada wanita lain yang memeluk bunda dan meminta foto, dan disaat itulah kami pun langsung pamitan dengan bunda untuk pulang, dan menyempatkan selfie sebentar.
Kami ber-Enam keluar menuju pintu gerbang Taman Ismail Marzuki menghampiri abang go-car yang sejak tadi menunggu. Meluncur menuju stasiun gambir.

Sesampai di stasiun, Tiga orang diantara kita shalat, dan tiga lagi tidak. Disela-sela yang lain sedang shalat maghrib yang dijamak isya, aku dan Mb Yekti mencari-cari jalan masuk menuju Monas. Kami mengintip lewat gerbang depan mushola. Sangat disayangkan, berwisata di dalam monas cancel, Karena waktu sudah malam dan mepet pulang. Padahal ini kali pertama saya ke Monas, awalnya kami merencanakan pagi tadi, namun gerbangpun masih di tutup.
Kami pun bertiga keluar stasiun menuju pintu gerbang Monas yang di tutup. Banyak bajaj yang menawarkan untuk masuk ke Monas melalui pintu utama yang terbuka. Mau nekad jalan.. tapi muternya 1KM. dan dengan rendah hati kami memutuskan lain kali saja kalau begitu, kami pun menyempatkan foto sebentar di depan gerbang yang terkunci.

***
Kembali ke stasiun, mencari makan dan pulang. Sepanjang perjalanan bus menuju merak aku bersama umi Neny bercakap-cakap, banyak hikmah yang bisa diambil dan didapatkan terutama tentang kepenulisan, hingga tiba-tiba mata terpenjam.
Pukul 22.00 bus memasuki area kapal di pelabuhan merak, menuju pelabuhan Bakhauheni.
Ada kisah yang menyayat hati di kapal malam itu … baca selengkapnya disini...
(https://desliyaninatalia.blogspot.co.id/2017/10/tragedy-kapal-malam.html#more
Yang jelas kepergian ke Jakarta Hari itu seperti mimpi. Malam ahad pergi, tertidur di perjalanan, bangun subuh sudah di Jakarta. Lalu Malam Senin pulang, tertidur di jalan, Subuh 03.00 sudah sampai di Tanjung Karang. Kepergian sehari ini bagaikan mimpi di malam hari.
Post a Comment