Tuesday, October 17, 2017

TRAGEDY KAPAL MALAM


“Semoga dapat kapal yang bagus” ujar umi Neny membuka percakapan di bus.
“Aamiin, Alhamdulillah kemarin pergi kami dapat yang bagus mi, gak tau nanti” jawabku
***
Seketika kami tertidur pulas, umi pun membangunkan kami menginformasikan bahwasanya sudah sampai Pelabuhan Merak dan akan turun dari bus untuk menuju tempat di kapal.
Aku pun melihat jam menunjukkan pukul 22.00. wah cepat yah.. baru jam segini sudah naik kapal, jangan-jangan tidak subuh sampainya tetapi jam 03.00an kita sampai di tanjung karang.

Bus pun berhenti dan parkir di lantai dasar kapal. Semua penumpang diminta untuk turun. Kami pun menuju ke lantai 3 kapal yang kami naiki.
Ekspresi kami seketika berubah, “hem.. kapalnya tidak bagus. Tempatnya begini banget yah. Haduh ada orgennya lagi, bisa-bisa kita tidak tidur.” Ujar salah satu diantara kami.
Mb Arie dan Ari keluar mencari ruangan yang lain. Aku, Mb Yekti, Nisda dan umi duduk di tempat yang telah dipilih.
“Kira-kira kita kuat gak nih di sini? Pasti kalau sudah jalan musiknya bermain, mana banyak bapak-bapak yang merokok.” Ucap Nisda kepada kami.
Aku : “Tunggu sebentar yah, aku cek tempat dulu.”
Aku pun menuju ke luar ruangan, melihat sekitar. Hanya ada dua ruangan di kapal tersebut. Satu dengan suasana musik dangdut dan para lelaki yang merokok. Satu lagi ruang VIP yang tidak seberapa bagus namun sudah dipenuhii dengan kebanyakan bapak-bapak.
Di sebrang toilet aku melihat ada ruangan mushola yang bersih. Aku pun berinisiatif mengajak mereka untuk rehat di dalam mushola saja.
Akhirnya kami pun memutuskan untuk rehat di ruag mushola. Kami bergegas meninggalkan ruangan yang cukup tidak kondusif itu.
***
Beberapa menit kami duduk di dalam mushola tiba-tiba seorang bapak tinggi besar masuk dan mengatakan “ngapain mb disini? Keluar-keluar, musholanya mau dikunci. Di sanakan masih ada kursi yang kosong di belakang. Keluar-keluar.”
Seolah-olah kami tak menggubris usiran sang bapak. Tidak lama kemudian dua sosok lelaki masuk mushola, dan mereka melaksanakan shalat isya.
“Yasudah kita di sini saja dulu, nanti jika sudah 3x diusir baru pergi. Rada maksa. Dan harap-harap cemas.” Ujar Mbk Yekti.
Tidak lama kemudian dua sosok wanita ikut masuk ke dalam mushola dan melaksanakan shalat isya. Lumayan perpanjangan waktu.
Setengah jam kemudian sisa kami ber-Enam yang berada di dalam mushola kapal tersebut.
“Kamu baca qur’an saja agar kita tidak diusir,” celetukku pada Nisda
Namun takdir kami memang harus tetap diusir, bebrapa menit kemudian sang bapak kembali hadir dan meminta kami keluar dari mushola. Dengan berat hati kami pun keluar dan mencari tempat lain. Mushola pun terkunci rapat-rapat.
Umi Neny, Nisda, Mb Yekti dan Mb Arie memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan yang ada orgen tunggalnya. Ari kekeh ingin duduk di pinggir kapal. Tidak tega meninggalkannya sendiri, aku pun menemaninya duduk. Baru saja kami duduk dan berdiskusi, tiba-tiba seorang lelaki yang sejak tadi merapihkan tikar yang ku kira petugas kapal ikut menghampiri kami.
P.T: “Mbak 10rb saja mb tikarnya.”
Dengan ekspresi bingung,
A : “Maksudnya gimana ya mas?” Tanyaku heran.
P.T: “Iya mb ini tikarnya disewakan 10rb saja.”
Seketika aku dan Ari saling menatap.
A : “Gimana ri?” Tanyaku.
A : “Masuk aja deh yuk”
A : “Iya yuk dingin juga di luar. Oh maf mas, makasih ya, kami di dalam saja kalau begitu.”
Kami pun ikut menyusuli mereka yang terlebih dulu duduk di dalam kapal. Dan meninggalkan mas-mas yang menawarkan sewa tikarnya. Bismillah.. mencari posisi yang enak, kami pun beristirahat.
***
Lima menit kemudian..
“Yo, yo dibeli yo pecinya murah meriah untuk suami dan anak. Biasa di jual 30 ribu di pasar, tapi bisa ditawar jadi 25rb. Jika beli disini hanya 15rb. Yo yo..”
Teriak sang bapak yang menggunakan pakaian petugas kapal dengan gaya promosinya. Suaranya cukup menarik perhatian semua penumpang yang berada di dalam rungan tersebut.
Dan tiba-tiba sang anak muda yang berseragam sama membagikan peci ke kursi-kursi penumpang. “Yo yo silakan di coba dulu. Jika tertarik bisa bayar ke kami.”
Belum usai sang anak muda membagikan peci, sang bapak di depan kembali mempromosikan ciput, obat urut dan satu per satu produk yang dijualnya.
Sedangkan sang anak terus keliling mengitari penumpang, membagikan brosur, peci, maupun ciput.
Ada beberapa penumpang yang tertarik dan membelinya, ada pula yang mengabaikannya. Suasana malam itu seperti sedang berada di pasar. Tawar-menawar pun terjadi. Aku yang sejak tadi duduk di samping Ari pun berbisik. “Ri.. keren yah mereka, liat geh tekhnik promosinya., liat geh gayanya, keren yah.. gak malu-malu tapi pede baget.”
“Iya.. liat geh anak muda itu walau tidak dibeli ekspresi menaruh barang dan mengambil dari tempat penumpang tetap sama. Tidak marah atau kecewa” ujar Ari padaku
“Iya.. bisa dicontoh tuh gaya promosi yang super pede itu.”
“Iya betul..”
Percakapan yang berbisik-bisik pun memenuhi cakap dengan sembari memperhatikan orang-orang yang ada disekitar.
Lima menit setelah mereka usai berpromosi, kapal pun sudah mulai jalan. Tetiba sosok lelaki memegang mic di depan orgen, menyampaikan perjalanan dan mendoakan semoga selamat sampai tujuan.
Setelah muqadimah yang dilakukan ia pun menyanyikan sebuah lagu nonstalgia, diirigi dengan music orgen yang sangat besar.
“Yah.. mulai.. siap-siap deh tidak bisar tidur.” Ujarku dengan Ari
“Iya nih.. haduh tutup telinga.”
Ku perhatikan Mb Arie, Mb Yekti dan Nisda yang sudah menutup wajahnya dengan masker dan jaket. Mereka pun berupaya tidur. Pun begitu dengan Umi Neny yang di depan kami, umi berupaya untuk memjamkan mata agar tertidur dengan tubuh yang ditutupi jaket. Sedangkan aku dan Ari masih terjaga.
Satu dua lagu didendangkan hingga tiba puncaknya di tegah malam sekitar pukul 23.00 sang bapak pemandu orgen memanggil para biduan (wanita penghibur) untuk bernyanyi.
Mataku mulai mencari dan melihat. Ternyata di ujung kapal sebelah kanan di samping orgen 4 biduan yang memakai baju merah mencolok sedang berselfie.
“Innalillahi wa innaiayhirojiun, astagfirullahhaladzim.. Ri.. itu biduannya dikeluarin, ku kira hanya bapak tersebut yang menyanyi..” keluhku pada Ari.
“Astagfirullahhaadzim.. pakaiannya ukh,,” ujar Ari
Dan sejak saat itu orgen dikuasi oleh Empat wanita penghibur. Suasana semakin malam semakin tidak kondusif. Tidak hanya dangdut, music remix pun diputarkan dengan volume yang cukup untuk memcahkan gendang telinga.
“Ih,, aneh loh.. gimana orang mau istirahat coba, musiknya gede bener.” Lagi-lagi keluhku pada Ari.
“Iya ih..”
Dan semakin malam semakin menjadi. Tidak hanya menyanyi, para biduan itu memutarkan ruangan, meminta sumbangan hasil ngamennya, beberapa memberikan. Namun sang biduan tidak mengarah ke kami.
Ku lihat Mb Arie, Nisda, Mb Yekti yang tetap mencoba tidur memejamkan mata. Sedangkan umi Neni di depan mulai mengeluarkan pena dan kertas.
“Ri.. Ri.. liat geh.. pasti umi lagi mau nulis. Pasti umi mau menuliskan kejadian ini. Pasti ide umi mulai bertebaran.” Dengan gayaku yang sok tau.
“Iya keren yah umi, selalu produktif.”
“Iya, aku mau nulis catatan handphone ku sudah mati.”
Kami pun memperhatikan satu per satu para penumpang.
“Des, liat geh kakak itu keren yah.. dia sedang baca buku..” Ari mengarahkan pandangan ke seorang lelaki yang sedang asyik dengan bukunya.
“Masya allah iya, memafaatkan waktunya yang ada. Aku tadi mau bawa buku tapi fikirku perjalanan malam pasti mau rehat, jadi tidak jadi ku bawa. Biasanya aku membawanya.”
“Iya ini aku bawa, tapi belum dibaca” ujar Ari.
“Oh iya, tadi kan dapat buku Ahmad Rifai Rifan, baca itu saja deh.” Aku pun segera menegeluarkan buku kecil berjudul “Perjalanan Menulisku” Ahmad Rifai Rifan. Yasudah gantian yah bacanya. Oke.
Sembari membaca mata ini pun sembari melirik para biduan yang semkain tidak punya malu. Satu per satu para lelaki di godanya, satu per satu penumpang lelaki dimintakan sawerannya, sembari memberikan goyangan yang sangat jijik ku melihatnya.
“Ya Allah.. dimana rasa malu mereka? Aku sebagai seorang wanita saja malu melihatnya, mereka mengapa dengan Pedenya melakukan hal tersebut?”
“Ri.. memang si ada sebab dan akibat seseorang melakukkan sesuatu hal tersebut, tapi.. astagfirullah. Masa maereka tidak malu, bagaimana jika anak-anaknyna melihat?”
Dan Hampir semua mata lelaki menatap Empat biduan dengan mata nafsu. Tidak sedikit para ibu-ibu yang ikut serta menatap karena heran, bingung, atau bahkan lucu melihatnya.. terlihat dari senyum seorang ibu yang seperti menganggapnya sesuatu hal yang biasa.
Dalam hati aku mulai berdiskusi. “Ya Rabbana.. ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa mereka, berikan kesempatan mereka bertobat, berikan hidayah kepada mereka. Ya Rabb.. apa jawaban kami saat di hari pengadilan nanti, ketika kami menyaksikan hal yag tidak baik di mata kami, namun kami memilih untuk berdiam dan menghindar. Bagaimana dengan petanggungjwaban nanti. Tidak ada tindakan kami untuk mencegahnya dan tidak mungkin kami melakukannya.” Keluhku pada sang Rabbi.
Dan fikiran ini pun melayang. Jika kami larang dan minta hentikan, bisa saja mereka mengusir kami, menjeburkan kami di tengah laut ini. Tapi jika tidak kami hentikan bagaimana nanti jawaban kami di akherat kelak, atas kedzoliman yang kami biarkan..  “Ya Rabb. Apakah diam kami saat ini adalah pilihan yang benar? Kami di sini menumpang. Jumlah kami lebih sedikit dari mereka. Bagimana jika sebaliknya mereka akan melakukan keburuan kepada kami. Ya Allah apakah diam kami saat ini adalah pilihan yang benar?” Semabri banyak-banyak beristighfar diri ini menyaksikan pemandangan yang tidak sedap mata.
Mencoba menyusul mereka yang tertidur namun yang ku dapati hanyalah kepala yang pusing. Aku pun mencoba menyelesaikan bacaan buku yang ku pegang, sembari ku berdoa “ya Allah semoga perjalanan ini segera usai. Semoga cepat sampai. Semoga cepat bersandar ke dermaga.”
Dan malam itu adalah Nampak jelas kami menyaksikan para biduan yang merayu suami orang. “Ya Allah.. bagaimana tidak banyak perselingkuhan dan perceraian, jika di dalam perjalanan para lelaki digoda dengan para wanita seperti mereka. Apalagi mereka yang tidak memiliki iman, akan mudah sekali tergoda.”
Tidak sedikit yang memberikan uangnya untuk para biduan dan berjoget bersama. Atau tidak sedikit para bapak-bapak yang tidak memiliki uang untuk menyawer namun meyaksikan dari tempat duduk, dari depan ruangan, maupun dari sudut kursi sembari merekam video goyangan sang biduan.
“Ya Allah… ampuni dosa-dosa kami..” hela nafasku panjang.
Setelah usai membaca buku, aku pun memaksakan diri untuk memjamkan mata, berharap kapal segera bersandar ke dermaga.

Hingga pukul 01.00 kapal kami pun bersandar. Alhamdulillah.. ujarku lega. Kami pun bergegas keluar dari kapal tersebut. Harap-harap cemas jika Allah kasih adzab di dalam kapal yang kami tumpngi malam itu.
Post a Comment