Wednesday, December 31, 2014

SURAT CINTAKU UNTUK MUROBBI..



Siapakah engkau?? Sungguh aku tak mengenalmu..
Yang ku tau pada saat itu aku sedang nyaman bersamanya, bersama murobbi yang baru ku kenal, aku yang sedang merasakan dekat kepadanya, selalu di berikan perhatian, bahkan materi yang di berikan sesuai dengan suasana hati..
Tapi sayang.. itu semua hanyalah sesaat terjadi, setelah pertukaran kado itu, itu adalah hari terakhir ku bertemu olehnya sebagai mutarobbi dan murobbi..

Ya, pada saat itu, setelah kami pekan lalu masak-masakan dirumah murobbi, lalu pekan terakhir kami makan di luar nyambi tukar kado pluss hari perpisahan..
Aku sedih.. sungguh sosok yang aku kagumi tiba-tiba harus pergi,
Ini sudah takdir Allah.. Allah telah memberikan jodoh untuknya, dan mengharuskan kami berpisah..
Bukan kami tak ikhlas dengan takdir itu, tapi.. rasanya cepat sekali.. baru kemarin kami berkenalan, dengan beberapa pekan kedatangan hari lahirnya lalu kami di traktir bakso olehnya..
Tapi, itu semua hanya tinggal kenangan,,
Bahkan saat kami terakhir berjumpa denganmu di atas pelaminan, kami hadir lebih pagi untuk menyaksikan akad nikah, hingga engkau berjalan diatas karpet merah menuju pelaminan..
Hanya air mata yang bisa berungkap..

Oh Murobbi..
Kini aku sudah mendapatkan penggantimu yang baru..
Siapakah dia??
Sungguh aku belum mengenalnya..
Yang ku tau kami sudah mendapatkan pengganti mu..
Tapi sungguh aku belum mengenalnya..
Perkenalanku dengannya pun  tertunda hingga empat bulan..
Mulai saat itu aku tak pernah lagi hadir dalam liqo’an..
Bukan karna sengaja, atau aku tak mau berjumpa dengannya..
Tapi suasana yang mengharuskan itu terjadi..
Aku sedang kerja di salah satu mall, hari liburku tak bisa bagaikan pegawai yang berkisar jum’at hingga minggu..
Hari liburku hanya ada pilihan di hari selas-kamis..
Bahkan waktu ku tersita habis hingga malam..

Murobbi baru..
Siapakah engkau?? Aku belum mengenal sosok mu..
Yang ku tau hanya jarkoman dari teman-temanku untu liqo hari ini dan ini..
Murobbi,, lagi-lagi saat pertemuan kita tertunda, aku tak bisa berjumpa denganmu..
Sungguh aku ingin  mengenalmu..
Bahkan yang ku ketahui bahwa pertemuan engkau dan teman-teman pun selalu tertunda karna jadwal waktu yang tak pernah sama..
Bahkan itu semua bisa dihitung baru berapa kali pertemuan..

Murobbi..
Tapi tuhan berkehendak lain, ia ingin menyatukan kami denganmu..
Hingga aku berhenti kerja di tempat satu dan pindah di tempat lain,
Alhamdulillah waktu ku untuk hadir dalam liqo’an sangat didukung..
Murobbi..
Pertama kali ku melihatmu, aku begitu asing sekali..
Murobbi..
Ingin rasanya aku bisa lebih dekat dengan mu..
Mengenalmu lebih baik..
Murobbi..
Tapi entah mengapa pertemuan pertama waktu itu tak begitu berkesan..
Aku enggan padamu..
Rasanya aku takut sekali..
Murobbi..
Entah mengapa..
Yang jelas yang ku tau engkau lebih dekat dengan dirinya, mungkin karna kesamaan yang banyak, atau karna perhatiannya yang terlalu lebih kepadamu..
Murobbi..
Bahkan kehangatan kalian membuat aku cemburu..
Aku terlalu sensitif untuk sesuatu hal, aku terlalu cepat peka untuk itu semua..
Mungkin yang lain tak merasakannya tapi aku.. aku sangat menyaksikan itu semua..

Waktu teruus berlalu hingga kau amanahkan aku sebagai masbhul liqo’an..
Ku berharap dengan amanah itu ku bisa lebih dekat denganmu..
sms yang dulu tak sempat kau balas nantinya akan sering kau balas..
entah mengapa penilaian minus ku pertama ketika engkau tak begitu peka dengan sms ku.. mungkin aku yang terlalu egois.. mungkin memang engkau tak punya pulsa, atau mungkin engkau terlalu sibuk hingga tak sempat untuk membalasnya, atau mungkin sms ku tak sampai di handphone mu.. yang jelas aku selalu mencari tau, sakitt rasanya.. bahkan temanku yang lain berkata bahwa ia sering smsan denganmu.. tapi ada apa dengan sms ku??

Murobbi..
Tapi itu semua telah berubah, sms ku sekarang selalu dapat balasan darimu walau terkadang lama menanti balasannya, aku tau karena pulsa mu tak cukup..
Murobbi..
Sudah 6 bulan lamanya kami bersama..
Banyak hal yang terjadi..
Manis dan pahit..
Murobbi...
Tapi jujur aku  belum bisa merasakan kenyamanan itu, bahkan ketika aku menjadi mashul liqo’an..
Yang ku tau cintanya pada mu begitu luar biasa, hingga kedekatan kalianpun selalu membuat aku cemburu..
Tapi mengapa dengannya??
Mengapa segalanya harus terjadi antara aku dan dia..
Bahkan bersama murobbi ku pun begitu..
Sikapnya sungguh membuat aku cemburu..
Cada tawa kalian, kesamaan kalian, lelucon yang kalian keluarkan, bahkan pengalaman-pengalaman yang kalian ceritakan di depanku mebuat hati ini tambah lirih..
Mungkin kalian tak menyadari itu semua..
Tapi aku tak punya  hak menyampaikannya, itu semua hak kalian..
tapi ku mohon.. jangan di hadapanku..
Berulang kali ku coba untuk menyembunyikan rasa itu..
Semua itu ku coba jalani..
Semua itu ku coba tutupi..
Semua itu ku coba untuk lupakan, tapi sungguh suliit sekali.
`bahkan ku mencoba untuk menyikapinya seperti kawan-kawan yang lain, tapi ternyata sulitt sekali.. hati yang terlalu peka dan sensitif untuk itu semua..

Murobbi..
Entah apa yang mendorong ini semua untuk ku tuliskan..
Bukan bermaksud untuk menyalahkan dirimu dan dirinya..
Tapi.. aku hanya ingin mencurahkan isi hati ini.. agar kelak di suatu saat kalian bisa membacanya..

Murobbi..
Kejadian kemarin yang membuat aku bertekad untuk menuliskan ini..
Memang salah kami..
Memang salah ku sabagi mashul yang tidak amanah..
Memang salahku..
Kejadian saat liqo’an telat yang membuat engkau marah..
Sungguh kami bukan bermaksud untuk mempermainkan engkau, tapi kami hanya mencoba menyelesaikan amanah satu per satu..
Waktu kami menengokin kk kelas yang sakit, dan kerumah tks yang melahirkan..
Tak ada maksud dari kami untuk membuat engkau menunggu hingga terlalu lama..
tapi kami tak bisa menghentikan waktu, kami sudah mencoba mempercepatnya, tapi waktu kami sedikit sekali untuk berapa jam itu..

“lain kali jangan di ulangi lagi ya”..
Manis.. tapi raut wajahmu seakan-akan marah, tapi  hanya engkau tunjukan kepadaku.. apa karena aku mashul nya?? Atau karna aku yang datang lebih awal dan berjumpa denganmu lebih dulu..
Atau karena aku yang terlalu peka dan sensitif..

Rabbi..
Ampuni hamba yang telah membuatnya kecewa..
Dan kini itu semua terjadi lagi..
Di saat liqo’an tak bisa dilakukan di pekan ini..
Beralasan karena ada agenda rihlah..
Dan hari-hari sebelumnya yang padat hingga kami pulang sore  baik untuk mempersiapkan atau untuk agenda yang lain..
Engkau  marah pada kami.. Engkau bilang
“tolong smsnya di forwad ke teman-teman.. liqo memang bukan segalanya, tapi semuanya berawal dari liqo”
Rasanya bagaikan ada yang menancap kan pedang di hati ini..
Memang.. kami tau itu..
Tapi??
Sungguh kami tak sengaja membuat ini semua terjadi.
Bukan maksud kami mempersampinhgkan liqo..
Bukan maksud kami menganggap liqo’an itu tidak penting..
Bukan..
Oh murobbi..
Tolong mengertilah keadaan kami..
Sungguh sms nya seakan-akan sangat marah..
Sungguh itu semua menjadikan beban untuk ku tersendiri..
Murobbi..
Bukan maksud kami menganggap liqo tak penting. . tapi tolong..
Rihlahpu bukan hanya untuk bersenang-senang..
Kami pun sedang mempertaruhkan kader-kader selanjutnya.. bagaimana cara kami untuk mereqrut adek-adek..
Bukan maksud kami menyampingkan liqo karna tak ada waktu kosong.. tapi cobalah mengerti.. kami pun punya amanah sebagai seorang anak, bagaimanapun juga kami harus tetap menjalankan itu..   bagaiamana caranya agar jalan dakwah ini di permudah..
Murobbi..
Sungguh maafkan kami lagi-lagi telah membuatmu kecewa..
Tapi sungguh kekecewaan ku semakin bertambah..
Mengapa seakan-akan ini semua menjadikan beban buat ku, dengan kondisi ruhiyah yang sedang futur,, cobahlah mengerti kami..

Murobbi..
Mungkin lagi-lagi aku yang terlalu egois..
Aku yang terlalu cepat peka dan sensitif..
Aku yang terlalu lebay mengahdapi situasi ini semua..
Tapi sungguh,, inilah aku,,
Mungkin aku tetap bisa tersenyum di hadapan kalain, tapi entah apa lubang di hati ini masih bisa di tutupi dengan semen yang tebal..
Murobbi.. hingga aku berfikir untuk malu berjumpa denganmu lagi..
Aku malu dengan diri ini..
Hingga aku bherfikir untuk berhentri dari ini semua.. tapi dengan alasan apa?? Mungkin kalian akan bertanya-tanya.. tapi sungguh aku tak sanggup menjalaninya lagi, tapi akupun tak sanggup membuat kalian khawatir..

Murobbi.. maafkan aku yang telah buat engkau kecewa..
 Maafkan aku yang telah banyak menyalahkan engkau..
Maafkan aku dan sikapku yang terlalu cepat peka..
Bahkan air mata ini pun tak akan mampu menebus kesalahanku padamu..
Maafkan aku wahai murobbi ku..
Maafkan aku karena api cemburu itu..
Sungguh sebenarnyapun Aku cinta padamu karena Allah..

Allah kini aku bersyukur aku telah di perkenalkan sosok malaikat yang tangguh..
Yang telah memperkanalkan aku dengan Surah An-Naba.. hingga aku pun tak asing dengannya, ketika orang-orang di sekitarku membicarakan surah itu.. aku sudah hafal dan kenal dengannya, karena murobbi ku..

Allah,, ampuni dosanya.. dia orang baik, langkah kaki yang ia relakan untuk berjumpa dengan kami..
Bahkan uang yang meronggok kantongnya untuk mentraktir kami mie ayam, membelanjakan kami makanan, atau yang sering membawakan kami makanan dalam liqo’an.. buku yang selalu di pinjamkan ke kami juga..
Allah aku bersyukur, banyak hal yang kudapati darinya..

Ampuni dosa-dosanya ya Rabb..
Ampuni aku jika suatu saat nanti menjadi pemberat timbangannya..
Ku mohon ikhlaskan lah ia memasuki syurgamu..
 aku ikhlaskan itu semua..
aku tau ia pun hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari salah..
Anggap saja itu semua tak pernah terjadi..
Ya rabb.. ampuni dosa-dosa kami..
Rabbi.. dia orang hebat dan baik,, lindungi ia selalu dimanapun ia berada..
Salam cintaku untuknya..
Maaf tak ada yangbisa kulakukan untuknya..
bahkan cinta yang ku ekspresikan tak senyata mereka..
Maafkan daku murobbi..



Salam cinta dari mutarobbi mu..
Bandar lampung, 28 juni 2013.



Desliyani Natalia..
Post a Comment