Monday, September 25, 2017

SARAPAN KATA Hari Pertama

Menulis itu aktivitas yang sakral menurut saya. Gimana gak dibilang sakral.. antara fikiran, hati, dan jari harus terkoneksi dengan bagus. Fikirannya bertebaran ide kalau hatinya lagi galau yasudah berlalu begitu saja, atau hatinya lagi bahagia tapi idenya buntu, apalagi… mana ada yang ditulis. Atau hati bahagia, ide bertebaran, tapiii mager.. yasalam..

Baru saja kemarin saya berfikir saat berada di jalan. (edisi lagi banyak yang mau ditulis tapi sikon waktu belum mendukung), “Nulis itu juga ternyata butuh konsentrasi, waktu yang tenang, fikiran yang fresh, baru akan menjadi sebuah tulisan yang gurih, yaa walaupun tidak segurih kue lebaran tapi tetap enak di santap” dan benar adanya, beberapa tema berlalu begitu saja karena waktu yang tidak mendukung alias mager nulis, alhasil kelewat waktu dan sudah basi, kalau sudah basi ujung-ujungnya berfikiran untuk apa ditulis.

Kalau baca statusnya kang Tendi tuh suka jleb pake banget. “Tulisan yang baik itu, yah yang dikerjakan dan selesai”


Akhir-akhir ini saya ikut joint di Komunitas Tapis Blogger. Awalnya sih hanya penasaran, kenapa ya.. para penulis jago itu kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu. Kenapa yah anak muda apalagi yang masih single sedikit sekali yang jago, coba deh lihat penulis disekitar maupun yang best seller? Akhirnya jointlah saya memberanikan diri ketika blog yang dibuat sejak 2010 kembali di isi kembali. Setelah masuk grup itu.. krik, krik bahasa yang diobrolin penulis keren itu terlalu tingi untuk saya serap, alias ketinggalan jauh.. mereka berbicara tentang blog yang berpenghasilan, saya mah apa atuh masih berkutik di hati yang belum tetap menemukan fashion tulisan blog mau dibawa kemana.

Saya juga salut dengan emak-emak blogger, Masyaa Allah.. blognya keren-keren.. woowww nulisnya pada konsisten. Coba bayangkan dengan fullnya aktivitas mereka sebagai bapak/ibu/ PNS/Pegawai/DLL masih saja punya targetan khusus untuk tulisan setiap hari. Lah saya? Menulis jika moody. Pantes saja hehe.

Awalnya juga saya berfikir setelah mengamati para penulis lokal maupun internasional kok mereka suka banget yah curhat di status, curhatan yang dibuat cerpen. Kok mereka pada exis upload foto dan bercerita yah, kok hal yang sepele aja diceritakan yah? Dengan penasarannya akhirnya saya menemukan jawaban.. ooo… iya juga yah, bisa ala biasa. Biarkan saja mereka, suka-suka mereka menulis, bercerita, mengupload, toh beranda juga milik mereka, ooo ternyata itu kuncinya, mereka rajin sekali mendeskripsikan dalam bentuk tulisan dari sebuah kejadian.

Dan sejak saat saya memakluminya saya pun mulai mencoba untuk mencontoh dan mengikutinya. Yah.. jadi wajar saja jika akhir-akhir ini status saya pun banyak tentang cerita dan kejadian. Yah wajar saja, saya sedang belajar melatih tulisan agar lebih baik lagi. Bukankah mencontoh orang sukses itu kudu mengikuti jejaknya?

Dan kemarin saya pun memutuskan untuk kembali membuat akun instagram dengan nama asli. Setelah sebelumnya saya memutuskan hanya fokus dengan instagram bisnis saya Gazebo R N D dan sebelumnya instagram dengan nama pena. Ahh.. galau.. gawenya buat instagram terus upload poto dengan caption tulisan, lalu delete akun, sering-sering aja begitu. Dan akhir-akhir ini mengapa saya memutuskan untuk membuat ulang dan memberanikannya buat umum yah begitu.. akhir-akhir ini sering ikut event keren-keren, mau upload dan mengabadikannya di instagram bisnis gak mungkin, mau mereview atau ikut kontes lomba pakai akun bisnis gak mungkin. Akhirnya bebrapa momen dan lomba terlewat begitu saja. Setelah saya memutuskan buat akun twitter baru karena baru paham pake banget penggunaannya akhirnya saya memutuskan untuk membuat instagram baru. Mau ikuti jejak Bunda Asma. Dan saya berazam instagramnya hanya untuk pengembaraan saya dalam dunia literasi, organisasi, dan bisnis. Jadi.. kayaknya ke depan akan lebih banyak upload foto deh, semoga kalian bersabar yah..

Oh ya.. terkait upload foto nih, buat seorang akhawat itu galau banget yah.. disisi lain untuk menjaga, disisi lain untuk kebutuhan. Jujur kalau saya pribadi lebih suka melihat poto itu jelas biasa saja dari pada melihat poto yang ditutupi dengan emot, atau hanya khimarnya, atau hanya kaos kakinya, atau hanya yah begitulah gaya akhwat yang malu-malu dengan upload foto tapi tetap dilakukan dengan caption yang mengundang. Pernah saya bilang dengan teman-teman Presidium Ibroh waktu itu saat ingin menyelesaikan masalah fenomena ikhwan-akhawat. Saya sampaikan pendapat saya di atas. Saya tuh.. melihat dengan kacamata seandainya saya ikhwan kalau melihat foto akhawat yang ditutupi emot dll maka saya akan lebih penasaran untu mencari tau, beda dengan melihat langsung ketika tau aktivitas apa yag di upload, oh yasudah CTA.”

Yah namanya juga pendapat, sah-sah saja dong. Lalu saya pun pernah bertanya dengan murobbi saya. “Mi, terkait upload poto gimana nih?” dan sama halnya adik-adik binaan saya pun banyak yang bertanya begitu. Kata si umi.. “Jika untuk hal kepentingan, menginformasikan suatu hal, dsb tidak masalah. Seperti umi sebagai kepala sekolah ingin menginformasikan kepada orangtua saat study tour atau menginformasikan aktivitas dengan keluarga, ya tidak masalah karena ada kepentingan. Tapi jika hanya sekedar ria, pamer, exis lebih baik tidak usah” ok. Sudah dapat kucinya. Dan sejak saat itu saya sudah punya prinsipnya.

Dan saya mulai memberanikan diri, karena pertemanan di sosmed memnag lebih banyak dengan keluarga dan sanak saudara yang lama. Setidaknya mengiformasikan saya yang dulu bukanlah yang sekarang.. haseek.. teman-teman di zaman jahiliyah dulu (saat jadi anak tomboy) gak kaget lagi saat berjumpa, karena mereka sebelumnya sudah mendapatkan informasi saya di sosmed. Atau gak musim lagi kalau berjumpa diledikin dnegan sebutan ustadzah.. hehe.. tetap dengan kita yang dulu tapi dengan versi saya yang sekarang.

Satu lagi nih, kali pertama ikut seminar Bunda Asma Nadia di Aula RS Abdoel Moeluk, kata bunda gini. Identitas kita itu kudu jelas. Foto kita kudu jelas (wajar), bagaimana penerbit mau melirik kita, bagaimana penerbit mau percaya dengan kita, jika sosmed kita saja tidak jelas, fotonya foto kartun, informasinya tidak jelas, yah sudah jangan berharap mau dilirik penerbit. Dan seketika saya langsung meluncur ke instagram bunda Asma.. wooww… ohh begitu.. oke.. saya coba. Sejak saat itu pula saya memiliki prinsip.

Walau terkadang rasa galau hadir dalam diri. Duh terkadang iri dnegan akhawat yang sosmednya bersih dengan privasi termasuk fotonya. Tapi disisi lain duh iri juga degan penulis pemula atau senior yang mengabadikan dan mempromosikan tentang aktivitas kepenulisannya. Duh saya galau, saya mah apa atuh kudu harus bagaimana.

Mau jadi penulis sukses kok ragu-ragu. Alhasil saya selalu mencoba dan berusaha mengikuti jejak para penulis, mengikuti seminar, kegiatan dll untuk mengupgrade diri tentunya. Dan salah satunya bergabungnya saya di jama’ah KMO. Dari mulai ikutan KMO Batch 2 yang ke depag dari grup karena kehabisan point alias tidak khusnul khotimah, hingga joint di KMO Batch 10 yang akhirnya khsnul khotimah juga, hingga memutuskan dan tidak ragu untuk ikut serta di Jumpa Penulis Indonesia.

Woow banget gak sih 7 pembicara dari jumpa penulis itu best seller semua, lalu.. mereka yang saya nge-fans-in semua.. masa iya gak mau ikutan, apalagi pas keep tiket kemarin saat harga promo. Behh bakalan nyesel kalau tidak mengamankan tiket dari jauh-jauh hari. Secara gitu 1000 peserta dari seluruh Indonesia, bahkan yang Malysia dan Singapura saja sudah keep duluan.

Memang sih, sudah dua kali ikut seminar Bunda Asma Nadia, sudah pernah ikut seminar Tere Liye, sudah pernah ngundang coach Tendi Murti ke Lampung, sudah lengkap dengan foto bareng bersama mereka. Tapi… disana ada Kang Dewa Eka Prayoga, ada juga Pak Iphho Santosa. Yang akhir-akhir ini saya baru ngeh dan baru ngefans setelah dipinjamakan buku dan diberikan link oleh teman saya.. dan.. saya mauu baget untuk berjumpa dengan mereka… wuiihhhh langsung ngeresepin ilmu secara langsung pasti beda, biar jadi penulis langsung hehe.

Ini lah efek sarapan kata di saat belum sarapan dan lagi semangat, akhirnya tulisannya ngawur-ngidul. Tapi kata Bang Bobi Satya (Bang BS), tugas kita hanya menulis kesempurnaan tulisan hak editor. So.. menulislah. Sudah begitu ceritanya.


Post a Comment