Thursday, December 07, 2017

Pemuda Milenial Generasi Perubahan


Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Itulah sumpah yang acap kali kami (generasi milenial) maupun generasi lainnya ucapkan kala hari sumpah pemuda. Hari dimana kami tersadar bahwasanya negeri ini merdeka tidak lepas dari jasa para pemuda di dalamnya.

Betapa naïf jika kami mengingkari Sumpah Pemuda yang merupakan satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Namun nyatanya, hari ini, kami generasi Y ataupun yang sering disebut dengan generasi milenial kembali hadir di tengah masyarakat dengan issue media yang menjadi bahan pencitraan. Tidak dipungkiri memang, betapa banyak generasi mileneal yang mengajak generasi X maupun Z untuk ikut serta di dalamnya. Ketenaran, popularitas, followers, hastag, tranding topic, eksistesi social, genre, idola branding, lifestyle yang kini bermunculan dan menjadi sebuah keharusan.

Hingga terkenallah generasi milenial disebagian orang sebagai generasi paling malas, karena hari-harinya di isi dengan gadget. Mau makan, mau tidur, mau ke kamar mandi, sehabis shalat, di jalan, di ruang public, dimana pun berada tidak terlepas dari gadget.

Selain itu pula generasi ini di cap sebagai Generasi yang cenderung apatis dan tidak kritis. Tidak peduli dan terlalu santai dengan berbagai macam polemik yang ada. Jika masa lalu pemuda bersatu, berjuang mempertahankan keadilan, maka hari ini hanya sebagian saja yang peduli.

Belum lagi Generasi Milenial di cap sebagai generasi yang cenderung Suka Pamer. Selalu update status, selfie, siaran langsung layaknya reporter yang sedang meliput acara maupun emoticon-emoticon perasaan yang dishare di social media.


Sampai perkara yang dekat menjauh dan yang mejauh mendekat pun menjadi hal yang lumrah. Seakan-akan semua telah terkonsep dengan apeek, terfasilitasi dengan baik.
Di era yang serba digital menjadi pendukung generasi milenial untuk tetap eksistensi. Sedih rasanya eksistensi yang hadir dan yang terlihat di kalangan orangtua adalah kebobrokan moral, akhlak, tingkah laku dan sikap yang semakin menjadi. Betapa banyak generasi kami yang tidak lagi memperdulikan lingkungannya. Tidak mengenal alam untuk sebuah mainannya, tidak peduli dengan kehidupan tetangganya. Namun sebaliknya, mampu sangat amat peduli dengan lingkungan nun jauh, beralasakan termotivasi dan semangat ketika bersama-sama komunitas social media sana-sini yang diikutinya.

Dan Nampaknya generasi Y ini pun sukses menggiurkan generasi X maupun Z untuk ikut serta di dalmnya. Sangat mudah sekali hari ini kita temui generasi X maupun Z yang ikut bersikap layaknya generasi Y dengan berjuta aktivitas baru di dalam social medianya. Itulah issue yang memang nyata adanya.

Namun dibalik negatifenya sikap generasi milenial hari ini, masih ada banyak dibelaah bumi yang amat luas ini generasi Y yang berfikir dan bersikap postif. Yang menunjukkan kreatifitas kemancanegara, yang berprestasi di dunia. Yang kreatife dan inovatif dalam berusaha.

Generasi milenial tidak hanya bekerja keras untuk memamerkan prestasi di media sosial, namun juga untuk memenuhi tuntutan dunia profesional. Dan ketika seseorang memiliki segudang prestasi, media yang akan mengekspos prestasi mereka sebagai bahan berita.

Masih banyak generasi Y yang hadir di tengah-tengah masyarakat mengikuti trendy namun tetap syar’i. mengikuti trendy yang sesuai para pemuda di era masa perjuangan. Yang mencoba mengenal dan mencintai negerinya Indonesia. Seperti ujar Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengungkapkan pentingnya generasi milenial mengenal Indonesia secara utuh. Dengan demikian generasi muda bisa bangga dan mencintai bangsa dan ciri khas keindonesiaannya."Ini penting agar mereka bisa mengenal Indonesia secara lebih dekat. Karena tidak mungkin ada rasa cinta dan bangga, kalau mereka tidak mengenalnya," ungkap Hidayat saat dialog MPR Rumah Kebangsaan di ruang Presentasi Perpustakaan MPR RI, Kamis (19/10).

Bahkan presiden Indonesia pun berujar Kemunculan generasi Y (sebutan lain dari generasi milenial) sebagai agen pembawa perubahan akan sangat mempengaruhi pasar baik politik maupun ekonomi Indonesia dalam kurun 5-10 tahun ke depan. Hal ini diutarakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Hanura Tahun 2017.

Hingga MENKEU pun ikut serta mendukung generasi milenial untuk menjadi tombak kesuksesan ekonomi bangsa. Terbukti dengan kreatifitasnya dunia jual-beli online yang semkain pesat berkembang.

Dan hari ini PKS hadir di tengah-tengah generasi milenial. Sudah tidak asing lagi, PKS hadir untuk mewujudkan asa sebagian generasi milenial yang ada. Hadir mendukung dan mensuport serta mengajak ke dalam kegiatan-kegiatan positif. Hadirnya PKS muda seolah-olah mengajarkn kepada generasi ini tentang Indonesia memang akan sukses dengan para pemudanya. PKS mengajarkan kepada generasi ini untuk mulai peduli, belajar dan bersaing karya.

Betapa banyak cara yang dilakukan PKS untuk menggaet para generasi milenial ini. Mulai dari social media maupun kopdar komunitas. Berbagai macam perlombaan pun acap kali dilaksanakan guna mengarahkan generasi ini untuk tetap dan terus berkarya, berkarya untuk negeri dan bangsa ini.

Hingga akhirnya dengan Sumpah Pemuda yang sering dilontarkan minimal satu tahun sekali itu membuat para pemuda meyakini bahwa untuk dapat merdeka, maka sudah tak lagi bisa berjuang sendiri, melainkan bersama-sama.

Itulah sebabnya hari ini banyaknya hadir para komunitas anak muda yang mencoba untuk saling berbagi, membantu, memberikan edukasi ke pelosok-pelosok.

Milenial.. begitulah bunyi trendinya. Seakan-akan sosok emas yang hadir di tengah-tengah masyarakat, menjadi sebuah rebutan untuk dipergunakan. Yah, dipergunakan dengan zaman yang semakin modern namun tidak berkarakter atau sebaliknya, dipergunakan sebagai generasi harapan bangsa melalui ide kreatifenya.

Milenial.. hadirnya dinantikan banyak orang. Ada harap, ada cemas, ada ketidakpastian, namun ianya tetap bermuncul dengan identitasnya masing-masing. Inilah saatnya kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk membuktikan Milenial bukan tentang generasi yang buruk dan tidak bertanggungjawab, akan tetapi kami hadir sesuai dengan yang diharapkan Tuhan. Menjadi salah satu generasi yang dirindukan untuk menjadi pemimpin da khalifah di muka bumi ini. Mengaajak yang makruf dan mencegah yang munkar. Berprestasi untuk negeri serta menghasilkan banyak karya dan memperlihatkannya pada dunia.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzammil: 10)

Coba kita renungi baik-baik. Ayat di atas jika kita samakan dengan kondisi pemuda zaman sekarang, maka akan bertemu di sebuah titik yang sangat jelas, terang, seterang cahaya matahari di waktu Zhuhur. Pemuda? Kata yang memiliki yang makna penting bagi kehidupan masa depan sebagai bukti mari kita lihat kembali Ir. Soekarno;
“Berikan Aku 1000 Orang Tua maka akan Aku Cabut Semeru dari Akarnya”
“Berikan Aku 10 Pemuda maka akan Aku Guncangkan Dunia!”
Lihat betapa dahsyatnya perkataan presiden Soekarno tentang pemuda. Tetapi, jika kita lihat pemuda zaman sekarang yang mudah terbawa arus, gampang terprovokasi, menyimpang dari jalan kebenaran, maka ayat ini bisa menjadi salah satu solusi, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan”. Setelah kita berhasil bersabar dan tetap pada pendirian yang kita pegang maka Allah SWT juga memberikan cara yang terbaik kepada kita, “Jauhilah mereka dengan cara yang baik.”

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (An-Nahl: 125)

Kita lihat ayat di atas berbicara tentang tata cara berdebat yang baik. Mengingat ayat ini, maka sepantasnyalah kita juga mengingat perkataan seorang ulama besar yang telah menulis banyak kitab-kitab terkenal di berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti: Al-Umm, Ar-Risalah, Fiqh Sunnah. Ya, dialah Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu ‘Alaih;
“Al-Khuruj Minal Ikhtilaaf… Musatahabbun”
“Keluar dari perbedaan adalah sunnah”
Akan tetapi ulama lain juga mengatakan bahwa “Perbedaan adalah Rahmat”. Ya, keduanya benar. Keduanya memiliki hujjah yang kuat. Oleh karenanya di sinilah kita harus mengaplikasikan ayat di atas, “… dan debatilah mereka dengan cara yang baik…” Kita sebagai pemuda tidak bisa asal mendebat orang yang berdalil dengan perkataan Imam Syafi’i, karena mereka berdalil dengan pendapat itu pasti mempunyai hujjah. Kita juga tidak bisa mendebat orang yang berdalil dengan perkataan ulama terakhir, karena mereka berdalil dengan pendapat itu juga pasti mempunyai hujjah. Yang benar, kita harus menyatukan pendapat mereka berdua tanpa ada yang merasa tersakiti atau tersinggung.

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Hidup pemuda, hidup generasi milenial, hidup pks muda.

*Note : Edisi Telat Post, Sumpah Pemuda
Post a Comment