Sunday, December 03, 2017

Jejak Sang Teman


Teman? 
Jika ku sebutkan satu kata itu, lalu apa yang singgah di benak sahabat semua?

Teman : asyik buat diajak curhat
Teman : asyik diajak makan
Teman : asyik di ajak jalan
Teman : yang setia menutupi kekurangan
Teman : yang setia saling memberikan semangat
Teman : yang setia menyebut nama temannya di dalam doa

Dunia yang berputar, matahari yang selalu bersinar, rembulan yang selalu bercahaya, angin yang selalu datang sepoi-sepoi, bak pelengkap kehidupan yang Allah rangkai.
Silih berganti, satu per satu semua pasti pernah hadir bersama menggoreskan episode kehidupannya.


Ada teman SD yang asyik dengan permainannya, ada teman SMP yang asyik dengan genk dan percintaanya, ada teman SMA yang mulai membentuk diri, ada teman kuliah yang ketemu saat mata kuliah, ada temen organisasi yang bekerja dengan satu visi, ada temen komunitas yang asyik diajak berekspresi. Semua silih berganti. Datang lalu kemudian pergi, digantikan dengan yang lain lagi, lalu datang lagi dan pergi lagi, hingga akhirnya kita tersadarkan hidup ini harus mandiri. Terlahir dimuka bumi dengan gagah berani seorang diri, lalu meninggalkan dunia ini dengan rela sendiri.
Teman.. bahagia pernah memilik dan menjadikannya. Kalian yang hadir satu persatu, menggoreskan kisah, memberikan sarat makna, memberikan pelajaran berharga di dalamnya.

Dulu aku pun sama seperti kalian memiliki teman di masa sekolah dasar. Teman sepermainan, yang langganan bermain di sawah atau lompat pagar taman budaya para pencari bunga. Teman yang setia jemput untuk berangkat ke sekolah bersama, jajan cemilan bersama, nakal bersama, distrap bersama, genk bersama. Teman yang rajin ngajakin poto di studio bersama, yang ikut-ikutan panggil nama bapak untuk sebuah perselisihan. Yang berpisah diperempatan jalan, yang bergelut karena perbedaan fasilitas sekolah, yang mengenalkan cinta monyet dimasanya, yang asyik dengan trend kesurupan, yang rela berantem di tengah lapangan memperebutkan si gadis, yang rela memberikan uang palakan untuk sebuah pertemanan. Dan.. semua itu berakhir hingga kelulusan. Setelahnya semua hanya menjadi sebuah kenangan. Dulu iya dulu, sekarang kita dengan dunianya masing-masing. Datang hanya untuk memberikan surat undangan pernikahan dan kelahiran. Itu teman, mereka banyak mengajarkan sebuah perjalanan kehidupan, 6 tahun yang membahagiakan tanpa ada beban.

Atau teman semasa SMP, dengan genk yang baru. Dengan kisah yang baru, dengan percintaan moyet yang baru, dengan kenakalan yang baru, dengan keseruan yang baru. Bahagia,, sedih, canda, tawa, mengiringi. Lalu setelahnya pergi di telan masa. Hanya ada segelintir yang tersisa, yang masih ingin bersama, yang selalu mencari waktu di setiap moment untuk kembali merajut, yang pada akhirnya surat undangan pernikahan yang mengakhiriniya dengan kehidupan nyata.

Atau teman semasa SMA? Yang tidak kalah seru dengan pola fikir yang baru. Yang menganggap sengketa antar kelompok adalah suatu kebahagiaan. Yang ingin selalu melakukan dan berekspresi bersama, yang selalu cemburu tak kala mulai berpaling darinya. Mereka hadir lalu kembali, lalu pergi.

Atau teman ospekmu yang sangat membutuhkan untuk ditemani. Atau teman kelas di kampusmu yang agar merasa tidak sendiri. Atau teman mengerjakan tugas, dan yang menemani mengajukan skripsi hingga acc lalu pergi. Semua silih berganti, datang dan pergi. Ada yang tulus singgah di hati, namun ada pula yang hanya mencari.

Aku selalu disadarkan dengan perkataan sang ibunda yang rajin menasehati, bertemanlah secukupnya, jangan berlebih. Jangan terlalu membenci karena suatu hari nanti akan hadir membersamai. Jangan terlalu mencintai karena suatu saat nanti akan mengecewai.

Itu sebabnya aku selalu membatasi diri. Tidak ingin terlalu berlebih agar tidak ada yang sakit hati. Biarlah mereka datang jika ingin berbagi, biarlah ia pergi jika ingin mencari. Semua akan kembali dengan sendiri-sendiri.

Karena sejatinya yang datang akan pergi. Tidak hari ini, mungkin besok, besok atau besoknya lagi. Dan selalu berganti dengan yang lainnya lagi.

Apapun, siapapun, kapanpun, dimanapun kau memilikinya, jagalah ia, rawatlah hubunganya. Doakanlah kebaikan untuknya, berikanlah yang terbaik yang kau punya, bahagiakan hatinya, kelak saat ia pergi maka sejatinya diri sudah menoreskan kisah terindahnya. Jangan hakimi temanmu sendiri, kenali dirinya, pahami ia, tegur dan berbicaralah agar harmonis selalu menyertai. Selamat kepada para teman.


#lagiiseng
Post a Comment